klik

Pages

Wednesday, April 1, 2015

ANGIN DUTA SUARA

Kutitipkan laut, dia berombak
Kutumpukan angin, terbang melayang
Kusimpan bersama embun, kedinginan
Kulempar kematahari, terbakar
Bingung....
Bunga tak selamanya mekar
Pun begitu dengan senyum
Tak selamanya segaris
Bukan kisah Mahabarata
Apalagi Angling Dharma
Hanyalah gelisah akan satu rasa 
Ini bukan kasih dalam bait puisi
Juga bukan cinta dalam kata kata
Resah mencari makna
Ingin kubuang rasa rindu
Karena alamat dulu tak dapat dituju
Ohhh.... meski meraba, ternyata rasa masih dalam senyum mu

BALIK UNTUK TANGKUN

Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna.
     6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan.
     Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai).
     Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-)
------Dikutip dari Novel "Jagoan Padang Keladi", Karya Yudhi Doank.
Didedikasikan untuk Padang Keladi dan kelima sahabat masa SMP (Mario, Ranu, Candra, Eko & Sunyoto) Yang kini sebagian dari kami entah dimana.

MILEA UDAH SENYUM?

Milea, dia bukanlah Mileaku 1990. Jika Pidi Baiq menuliskan Dilan, Dia adalah Dilanku 1990. Maka Yudhi "Belum" Baik ingin bercerita tentang Milea dijaman milenium. Yahhh... Milea, dia adalah Mileaku 2014. (Terimakasih om Pidi Baiq)
Belum sempat ku hirup kebingungan kota Jogja, raung keindahan kini datang tanpa ku undang. Hehehe dasar aneh.... Pertama aku dikenalkan dengan keistimewaan satu kota bernama Yogyakarta, ketika itu kalender bilang sih itu tahun 2010. Yaaahh, 4 tahun yang lalu aku tertunduk hormat dibawah naungan satu "matahari" di kota pelajar. Ibu bapak membekali sedikit keberanian untuk melangkah mendekati peradaban, setelah bertahun-tahun diam duduk dan termenung dalam peradaban lawas. 
Entahlah.... apakah Jogja menyesal menerima kehadiranku, aku tidak paham itu, yang pasti ku yakin ada beberapa makhluk yang berstatus sama sepertiku yang tersenyum melihat kehadiranku, ibu kost misalnya yang senyum karena menemukan anak kost yang -belum- baik dan polos. Ehhhh.... tambah lebar senyumnya ketika ku serahkan uang sewa kamar. Alhamdulillaaaaah.....Loohhh dunia tidak memintaku untuk menceritakan itu lebih jauh, meskipun banyak hal menarik yang ingin ku bagikan tentang ibu Kost ku. haha..... 
Milea... aku mengenal namanya lewat Novel "DILAN, dia adalah Dilanku 1990" tapi aku sudah melihat wajahnya ditahun 2010, yaaahh begitulah Dunia yang tega menyiksaku menahan rindu pada orang yang belum ku kenal, looohhhhh kok bisa??? Tau ah gelap haha 
English for Tourism adalah matakuliah titipan Kampus yang diutus memperkenalkanku padanya dan Eyang Nuri adalah makhluk ciptaan Allah yang terindah karena telah memanggil namanya di presensi sehingga ketika itu aku tau namanya KH2. Namanya indah..... ada kuadratnya.... tapi kini aku lebih suka memanggilnya Milea.

***
Hai Milea, sudah senyum?hehehe.... dunia remaja sekarang pertanyaannya terlalu biasa menurutku. "sudah makan? mandinya? hmmmm lagi ngapain emangnya?" flat seperti meja bilyard... hmmmm mending flat tapi luas kayak lapangan bola, kan bisa guling guling. hahaha..... 
Tak terasa, anggap saja sekarang tahun 2011, modus untuk laki-laki romantis sepertiku ternyata berlaku juga. Entah siapa yang memulai, aku dan Milea ketika itu saling berbalas pesan singkat. Yang lain beralih ke BBM, aku masih asyik dengan SMS.... maklum BBM sering langka, loooohhhh.... hehe yaaahhh ketika itu HP Nok*a 5300 masih ku genggam erat. Sebetulnya bukan nggak mampu beli yang baru sih, hanya kata saja ibu bilang belum punya uang buat ganti HP baru. Huruf demi huruf, kata demi kata kalimat demi kalimat hingga menjadi paragraf, kami saling berbalas. Terus terang aku bingung, sihir apa yang membuat aku suka padanya, padahal dia nggak cantik, hanya mempesona, dia nggak pinter, hanya cerdas, lalu belakangan ini ku tau dia wanita yang kuat. Aku yang dulu mengaku pujangga terus saja bergelut dengan gombal -gembel-ku. sampai pada satu saat ku ajak dia bersepeda,
"hai.... nyepeda yuk, mau nggak" yaaah.... maklum nggak punya kendaraan, jadi Jogging saat itu lagi nge-trend dikalangan olahragawan cinta.
"hehe males... capek. aku juga banyak acara dikampus" ku tau ketika itu dia adalah bagian dari salah satu organisasi intra-kampus.
"ooohhh...." aku kehabisan kata-kata
"tapi boleh juga.... kamu lari,, aku pake sepeda, gimana?" aku nggak tau itu beranda atau bukan. 
benar saja,... berselang beberapa detik, sms baru diterima
"hehehe becanda ih... kasian kamu capek nanti, kapan kapan lah ya"  benar saja... si becanda memang panjang umur, baru dibilangin dia udah dateng. Makanya si "becanda" nggak mati mati sampe sekarang, sampai sampai negeri ini juga jadi bahan candaan.
Dari percakapan itu, aku mendapat beberapa cambukan, salah satunya cambukan karena rasa malu setelah mengetahui bahwa ia aktifis jurusanku, sementara aku? aktifis juga sih.... iya... ketika itu aku mengepalai sebuah lembaga yang bernama Jomblo Terhormat (lihat pekerjaan di profil facebook-ku). Bagaimana tidak, meskipun tidak memiliki pacar, tapi gebetan dimana-mana. Kayak ganteng aja. mau bilang kePeDean? terserah... setidaknya ku yakin ibu sering bilang aku ganteng semasa kecil. hehhe... Naah dari percakapan itu muncul semangat baru dan konsep baru dalam berpikir. Setidaknya aku mau mendandani hari hariku selayaknya mahasiswa beneran, bukan mahasiswa 3K (Kampus, Kantin & Kost). Seketika terlintas dalam pikiranku untuk mencari jalan mendekatinya lewat gaya ala mahasiswa. Ketika itu aku bergabung dalam sebuah komunitas seni. 
Dua tahun berjalan, hingga dalam detik keberapa, aku lupa tiba tiba namanya hadir setelah beberapa saat redup di hidupku. Oh iya.... Angin sempat menghembuskan berita tak sedap diterima telinga. Ketika kesenjangan bergelantungan antara kami, ia ternyata dekat dengan seseorang. Tak perlu kusebutkan namanya karena dia bukan tandingan apalagi sainganku. Aku yang ketika itu acak-acakan --sekarang juga masih-- sangat minder ketika mendengar namanya. Hingga satu waktu, seperti biasanya entah detik keberapa aku lupa, ku beranikan untuk mencari tau tentangnya.
***
Entah kebetulan atau tidak, 2014 menjemput warna kalender baru, warna kehidupan baru, dan warna almamater baru (lulus kuliah). Ketika itu P3K mengirimkan 4 orang temannya Milea untuk berproses bersamaku dalam  Praktikum. Seperti biasa, aku lupa detik keberapa dalam hari dan tanggal berapa aku menjadi salah satu laki-laki dalam Team itu. Dengan sangat terpaksa dunia memintaku untuk menjadi ketua setelah PPL dan KKN menempati kursi yang sama. Sehingga adalah satu keharusan buatku untuk mendekatkan diri pada mereka, begitulah teori minoritas yang berlaku. 
Suatu hari naluri kelelakianku ditantang ketika mendengar keempat temanku dan temannya itu berbincang tentang satu nama yang membuatku pusing, stress tapi meningkatkan keingintahuan. Yaaaahhh... ku tau ketika itu dia sedang menjadi ketua disalah satu komunitas. 
Ahhh sudah laah.... aku mau kerja dulu.,......... hehehe Milea udah senyum??

IBU BAPAK DAN RINDU

Angin... bawa semerbak rindu buat ibuku sayang
Bawa padanya sejuta kata maaf
Berat memang....
Bulan, katakan pada Ibuku aku baik baik saja
Tak usah dijawab jika ia bertanya
Anakku "sedang apa?"
Cukup berikan senyuman, bukan air mata.

Ibu... Punai nakal yang dulu ibu rawat...
Kini tumbuh dan belajar terbang labuh..

Terimakasih telah, masih dan akan menjadi malaikatku
Tak usah risau, Bu.

Ombak.... salam senyum buat Bapak dan jala-nya
Bawa padanya seribu kata terimakasih
Berat memang....
Bintang, letakkan penghargaan di badannya..
Paksa jika ia tidak mau.
Karena dunia selalu ingat keringatnya

Ibu, Bapak.... malam ini anakmu pulang terlambat.
Tutup saja pintunya, tapi tak usah di kunci :-)

MILEA DITELAN SENJA

milea menghilang. Sejenak ku perhatikan jarum jam, terhenti pada satu detik dimana ternyata rindu ini tak bertuan lagi. Ternyata aku kini sudah tak dalam detik yang sama. Detik satu tak sama dengan detik dua, menit berganti jam, jam berganti hari kini tak ada Milea disisiku. Bukan dimana? yang ku tanyakan, namun mengapa? Entah mungkin rasa telah berbeda, mau yang tak sama dan mungkin juga arah tak sejalan, tapi yang pasti Milea kini telah menghilang. 
Milea dimana? kulihat indah foto nan ayu menempel didinding sebuah ruang berukuran 3x3m yang sejak dulu hingga sekarang akrab disebut Kamar Kost. Oh iya... perlu diketahui bahwa aku adalah seorang pensiunan mahasiswa hehe. Hingga kini kehidupanku masih dihiasi oleh misteri 3x3. Dengan dinding dan ornamen sederhana, berdebu serta tak terawat, ada sebuah sebuah foto yang menempel dengan rapi. Kubersihkan setiap hari dikala mentari menyinari hingga rembulan bernyanyi memintaku untuk terlelap. Milea, itulah fotomu, dan fotoku juga tentunya. Milea dimana? sudahkah Milea lupa musim tak berbulan yang kita lewati? ku harap ini hanyalah sebuah Sinetron Indonesia yang memiliki banyak liku dalam proses namun selalu memiliki Happy Ending. Menikmati hidup ini tentu perlu inspirasi, sekecil apapun itu inspirasi akan sangat berharga ketika sendiri, ketika tak dihargai, ketika tak di ingini dan ketika kehilangan tanpa disadari.
***Milea Pergi***
Pergi, dalam KBBI berarti meninggalkan. Meninggalkan merupakan kata kerja yang membutuhkan subjek. Tentunya objek yang ditinggalkanpun juga ada. Milea kini ternyata tak hanya menjadi objek yang dijalankan oleh Tuhan, namun juga menjadi subjek yang menjalankan rindu dalam derap diri ini. Aku tak mengerti apakah ini namanya kehilangan, yang ku tau tanpamu aku sepi.Bukan berarti setiap saat kita selalu berdampingan, memang tidak sama sekali.
Seperti biasanya, aku selalu lupa entah detik keberapa, menit keberapa dan bahkan jam keberapa. Yang ku ingat hanya detik dimana Milea senyum dimalam itu menggantikan bulan yang tertutup awan. Mungkin sedikit redup ketika itu, tak apa yang penting kau ada. Ketika malam sudah berkuasa, dingin menjadi raja, embun bersiap menyambut mesra dan diri mulai tak terjaga, Milea datang membawa sebongkah rindu. Sejenak kemudian dia menghilang tanpa meninggalkan tanda apalagi jejak. Detik itu ku sadar ternyata rindu yang ia bawa sudah tak bertuan lagi. Ahhh, bukan kah rindu itu dibawa oleh tuannya sendiri? Ternyata bukan, hanya saja dunia terlalu egois mengirimkan bidadari pembawa rindu, jika akhirnya bidadari itu digrogti sang waktu. Bukan salah Milea selaku bidadari, hanya sang waktu dan pemiliknya lebih berkuasa. Bingung memang mengartikan dunia melalui cerita ini, karena pada saat cerita ini ditulis dunia memang tak memiliki arti.
Dalam suatu pagi, seandainya --mendekati iya-- datang makhluk luar angkasa bernama rindu, maka kan ku gantung dan ku ternak dia dipelopak mata, meskipun tak nyata, setidaknya ia selalu terasa disetiap kedipan mata. Setiap satu, akan beranjak menjadi dua, begitu juga harapanku setiap rindu akan beranjak menjadi jumpa. Milea, jangan pergi dariku. Kalau mau pergi sekarang saja. Kutunggu diruang rindu, kunanti dalam hati, jangankan mulai pagi ini, malampun ku mampu. Meskipun dingin yang penting ku tak beku.Tapi jangan harap kau bisa pergi lagi. GUBRAAAAKKKK... ternyata aku lagi bermimpi. Pagi ini tepat di Lowanu tempat ku bekerja, ku cari Milea. Ternyata dia sudah benar-benar pergi.... Capailah kebahagiaanmu, jangan pikirkan aku. Aku akan baik baik saja. Selamat jalan Milea, jika ada waktu, mampir keruang rindu kita berdua, buatlah satu menjadi dua. Dari aku ataupun kamu menjadi KITA.
Gersang, panas, gerah.... tak ada kata untuk menggambarkan betapa tak bersahabatnya dunia ini. Suara palu berkelahi dengan paku menghiasi ruang kerja, karena sebelah ada perbaikan. Milea, tak banyak permintaanku, cukup memberi kabar lewat angin. Pernah ku berdialog dengan sejuta makhluk yang tak terlihat oleh mata, yaitu sayang, rindu, cinta, kepedulian, kecemasan, kasih sayang dll, entahlah.... padahal semua itu merupakan kata benda dan kata sifat. Tapi semua itu kini tak tampak apalagi dirasa.
Tuhan, terimakasih atas kuasamu.... aku lupa detik yang keberapa, seperti biasanya. Milea sudah senyum? Ku yakin dia tersenyum lebar.

HUJAN DAN PERTEMUAN TERENCANA

Oleh: Ikmi Nur Oktavianti

Betapa kami mengagumi hujan,
Pecinta di atas bumi,
Dengan senyum mengembang dari wajah peresih,
Kami sambut setiap tetes yang mengenai kulit ari
Seperti belaian lembut yang menyeka tiap peluh kehidupan yang terperi
Dan mengenai helai-helai rambut kami
Bak seorang bayi dilangir seorang inang yang penuh kasih
Dan tetesnya yang mengenai bumi, beriringan,
Seperti para biduan yang mendendangkan lagu-lagu, beranggap-anggapan
Ah, kami mulai paham
Seperti telah terjadi persekutuan hati, langit dan bumi
Seperti ada pertemuan terencana, atau juga janji keduanya.
Maka lagi malam ini kami menelusur jejak hidup, menelusur perjumpaan terencana malam ini
Dengan temaram lampu kota di kanan kiri
Angin mulai digagahkan, dingin mulai diselimutkan di selingkup atmosfer
Supaya beroleh rintikmu mengunjungi bumi
Padahal baru kemarin kalian berbagi sapa, lewat pesan rahasia
Dan hujan yang tiada kunjung reda
Ketika kecup tulusmu menyentuhnya,
Bumi berkata: “lekas engkau datang!”
Meski masygul rasa hati
Karena petrichor yang tersesap masuk ke lubang hidung
Menyeruak dari pori-pori tanah bagaikan bunga selasih kayalnya
Memabukkan
Suatu perasaan yang tidak mungkin dinafikkan
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Turut bersuka atas cinta yang tersampaikan, atas rindu yang tersalurkan, meresap hingga ke dalam
Hingga nyaris tengah malam,
“Telanjuran”, kata bumi
Memang benar adanya
Percumbuan yang berlangsung begitu lama, mesra
Malam pun merasa tersakiti, dikhianati oleh bumi yang tiada mau peduli
Memohon bulan berhadir, pula bintang lekas melepaskan diri
Hingga terdengar oleh keduanya,
Pertanda percakapan hati harus diakhiri
“Esok aku akan kembali” kecup lembut hujan pada bumi, membawa pesan terakhir langit hari ini
Perlahan… kecup cinta dilepaskannya dari bumi, ditariknya
Meski berat, tetap ditariknya.. sembari mengempaskan segala rasa..
Dan hujan pun undur diri, menyibak kumpulan awan,
Bulan bintang terlepas dari himpitan, bercahaya menawan.
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Menjadi bagian dari percintaan, tengah malam ini,
Tak peduli dingin yang menggerayangi persendian
Karena hujan mampu menerjemahkan perasaan,
Dari langit untuk bumi yang belum tersampaikan
Karena setiap tetesnya sarat makna perjumpaan teramat sayang untuk ditumangkan,
terlebih diabaikan
Tiap tetesan yang membawa pesan cinta tersembunyi
Yang hanya mampu dipahami bumi.

DIUSIR CANTIK

Sungguh hujan dan angin menjadi satu,
Petir dan kilat menjadi pelengkap rindu,
Malam nanti ia berjanji tuk kembali,
Sekedar meneguk haus dari luar jangkauan imajinasi,
Rindu ini milik siapa?
Meski ada tanda tanya, namun tak butuh satu jawaban,
Ohhhhh maaak, temaram hancur ditikam angin malam.
Berjalan menelusuri jejak yang rapuh,
Ditengah hujan dan dingin, kilat dan petir
Berhenti didalam lorong gelap,
Hanya untuk sekedar bersujud dan mengadu,
Berteriak, aku rindu,
Kedinginan, menggigil, kebingungan,
Ooohhhhh ternyata.......
Aku telah diusir cantik oleh kota Jogja,
Meskipun kemaren kita baru jumpa,
Kemaren kita menatap senja,
Melawan sang waktu,
Bermanja dengan sang rindu,
Milea,.....
Lupakah kamu dengan amarah sang malam,
Ketika kita diperangi kedinginan,
Waktu...
Maafkan kami telah membunuhmu,
Malam...
Jangan marah hanya karena kami terlambat pulang,
Rindu...
Bangunkan semangat baru untuknya dan untukku,
Ohhhhh... aku kan akan menjadi sang perindu,
Antara Kau, ibu dan dia.
Buat ibu,
Anakmu kini bukan hanya anakmu,
Sudilah kiranya anakmu berbagi rindu,
Pada wanita anggun sepertimu,
Pada sebuah senja di bukit itu,
Senja kota, bawa dia kepelukanku
Nanti.

Diusir cantik,
Jogja, 02 Oktober 2014
 

Blogger news