Angin... bawa semerbak rindu buat ibuku sayang
Bawa padanya sejuta kata maaf
Berat memang....
Bulan, katakan pada Ibuku aku baik baik saja
Tak usah dijawab jika ia bertanya
Anakku "sedang apa?"
Cukup berikan senyuman, bukan air mata.
Ibu... Punai nakal yang dulu ibu rawat...
Kini tumbuh dan belajar terbang labuh..
Terimakasih telah, masih dan akan menjadi malaikatku
Tak usah risau, Bu.
Ombak.... salam senyum buat Bapak dan jala-nya
Bawa padanya seribu kata terimakasih
Berat memang....
Bintang, letakkan penghargaan di badannya..
Paksa jika ia tidak mau.
Karena dunia selalu ingat keringatnya
Ibu, Bapak.... malam ini anakmu pulang terlambat.
Tutup saja pintunya, tapi tak usah di kunci :-)
Wednesday, April 1, 2015
MILEA DITELAN SENJA
milea menghilang.
Sejenak ku perhatikan jarum jam, terhenti pada satu detik dimana
ternyata rindu ini tak bertuan lagi. Ternyata aku kini sudah tak dalam
detik yang sama. Detik satu tak sama dengan detik dua, menit berganti
jam, jam berganti hari kini tak ada Milea disisiku. Bukan dimana? yang ku tanyakan, namun mengapa?
Entah mungkin rasa telah berbeda, mau yang tak sama dan mungkin juga
arah tak sejalan, tapi yang pasti Milea kini telah menghilang.
Milea dimana? kulihat indah foto nan ayu menempel didinding sebuah ruang
berukuran 3x3m yang sejak dulu hingga sekarang akrab disebut Kamar
Kost. Oh iya... perlu diketahui bahwa aku adalah seorang pensiunan
mahasiswa hehe. Hingga kini kehidupanku masih dihiasi oleh misteri 3x3.
Dengan dinding dan ornamen sederhana, berdebu serta tak terawat, ada
sebuah sebuah foto yang menempel dengan rapi. Kubersihkan setiap hari
dikala mentari menyinari hingga rembulan bernyanyi memintaku untuk
terlelap. Milea, itulah fotomu, dan fotoku juga tentunya. Milea dimana? sudahkah Milea lupa musim tak berbulan yang kita lewati? ku harap ini hanyalah sebuah Sinetron Indonesia
yang memiliki banyak liku dalam proses namun selalu memiliki Happy
Ending. Menikmati hidup ini tentu perlu inspirasi, sekecil apapun itu
inspirasi akan sangat berharga ketika sendiri, ketika tak dihargai,
ketika tak di ingini dan ketika kehilangan tanpa disadari.
***Milea Pergi***
Pergi, dalam KBBI berarti meninggalkan. Meninggalkan merupakan kata
kerja yang membutuhkan subjek. Tentunya objek yang ditinggalkanpun juga
ada. Milea kini ternyata tak hanya menjadi objek yang dijalankan oleh
Tuhan, namun juga menjadi subjek yang menjalankan rindu dalam derap diri
ini. Aku tak mengerti apakah ini namanya kehilangan, yang ku tau
tanpamu aku sepi.Bukan berarti setiap saat kita selalu berdampingan,
memang tidak sama sekali.
Seperti biasanya, aku selalu lupa entah detik keberapa, menit keberapa dan bahkan jam keberapa. Yang ku ingat hanya detik dimana Milea senyum dimalam itu menggantikan bulan yang tertutup awan. Mungkin sedikit redup ketika itu, tak apa yang penting kau ada. Ketika malam sudah berkuasa, dingin menjadi raja, embun bersiap menyambut mesra dan diri mulai tak terjaga, Milea datang membawa sebongkah rindu. Sejenak kemudian dia menghilang tanpa meninggalkan tanda apalagi jejak. Detik itu ku sadar ternyata rindu yang ia bawa sudah tak bertuan lagi. Ahhh, bukan kah rindu itu dibawa oleh tuannya sendiri? Ternyata bukan, hanya saja dunia terlalu egois mengirimkan bidadari pembawa rindu, jika akhirnya bidadari itu digrogti sang waktu. Bukan salah Milea selaku bidadari, hanya sang waktu dan pemiliknya lebih berkuasa. Bingung memang mengartikan dunia melalui cerita ini, karena pada saat cerita ini ditulis dunia memang tak memiliki arti.
Dalam suatu pagi, seandainya --mendekati iya-- datang makhluk luar angkasa bernama rindu, maka kan ku gantung dan ku ternak dia dipelopak mata, meskipun tak nyata, setidaknya ia selalu terasa disetiap kedipan mata. Setiap satu, akan beranjak menjadi dua, begitu juga harapanku setiap rindu akan beranjak menjadi jumpa. Milea, jangan pergi dariku. Kalau mau pergi sekarang saja. Kutunggu diruang rindu, kunanti dalam hati, jangankan mulai pagi ini, malampun ku mampu. Meskipun dingin yang penting ku tak beku.Tapi jangan harap kau bisa pergi lagi. GUBRAAAAKKKK... ternyata aku lagi bermimpi. Pagi ini tepat di Lowanu tempat ku bekerja, ku cari Milea. Ternyata dia sudah benar-benar pergi.... Capailah kebahagiaanmu, jangan pikirkan aku. Aku akan baik baik saja. Selamat jalan Milea, jika ada waktu, mampir keruang rindu kita berdua, buatlah satu menjadi dua. Dari aku ataupun kamu menjadi KITA.
Gersang, panas, gerah.... tak ada kata untuk menggambarkan betapa tak bersahabatnya dunia ini. Suara palu berkelahi dengan paku menghiasi ruang kerja, karena sebelah ada perbaikan. Milea, tak banyak permintaanku, cukup memberi kabar lewat angin. Pernah ku berdialog dengan sejuta makhluk yang tak terlihat oleh mata, yaitu sayang, rindu, cinta, kepedulian, kecemasan, kasih sayang dll, entahlah.... padahal semua itu merupakan kata benda dan kata sifat. Tapi semua itu kini tak tampak apalagi dirasa.
Tuhan, terimakasih atas kuasamu.... aku lupa detik yang keberapa, seperti biasanya. Milea sudah senyum? Ku yakin dia tersenyum lebar.
Seperti biasanya, aku selalu lupa entah detik keberapa, menit keberapa dan bahkan jam keberapa. Yang ku ingat hanya detik dimana Milea senyum dimalam itu menggantikan bulan yang tertutup awan. Mungkin sedikit redup ketika itu, tak apa yang penting kau ada. Ketika malam sudah berkuasa, dingin menjadi raja, embun bersiap menyambut mesra dan diri mulai tak terjaga, Milea datang membawa sebongkah rindu. Sejenak kemudian dia menghilang tanpa meninggalkan tanda apalagi jejak. Detik itu ku sadar ternyata rindu yang ia bawa sudah tak bertuan lagi. Ahhh, bukan kah rindu itu dibawa oleh tuannya sendiri? Ternyata bukan, hanya saja dunia terlalu egois mengirimkan bidadari pembawa rindu, jika akhirnya bidadari itu digrogti sang waktu. Bukan salah Milea selaku bidadari, hanya sang waktu dan pemiliknya lebih berkuasa. Bingung memang mengartikan dunia melalui cerita ini, karena pada saat cerita ini ditulis dunia memang tak memiliki arti.
Dalam suatu pagi, seandainya --mendekati iya-- datang makhluk luar angkasa bernama rindu, maka kan ku gantung dan ku ternak dia dipelopak mata, meskipun tak nyata, setidaknya ia selalu terasa disetiap kedipan mata. Setiap satu, akan beranjak menjadi dua, begitu juga harapanku setiap rindu akan beranjak menjadi jumpa. Milea, jangan pergi dariku. Kalau mau pergi sekarang saja. Kutunggu diruang rindu, kunanti dalam hati, jangankan mulai pagi ini, malampun ku mampu. Meskipun dingin yang penting ku tak beku.Tapi jangan harap kau bisa pergi lagi. GUBRAAAAKKKK... ternyata aku lagi bermimpi. Pagi ini tepat di Lowanu tempat ku bekerja, ku cari Milea. Ternyata dia sudah benar-benar pergi.... Capailah kebahagiaanmu, jangan pikirkan aku. Aku akan baik baik saja. Selamat jalan Milea, jika ada waktu, mampir keruang rindu kita berdua, buatlah satu menjadi dua. Dari aku ataupun kamu menjadi KITA.
Gersang, panas, gerah.... tak ada kata untuk menggambarkan betapa tak bersahabatnya dunia ini. Suara palu berkelahi dengan paku menghiasi ruang kerja, karena sebelah ada perbaikan. Milea, tak banyak permintaanku, cukup memberi kabar lewat angin. Pernah ku berdialog dengan sejuta makhluk yang tak terlihat oleh mata, yaitu sayang, rindu, cinta, kepedulian, kecemasan, kasih sayang dll, entahlah.... padahal semua itu merupakan kata benda dan kata sifat. Tapi semua itu kini tak tampak apalagi dirasa.
Tuhan, terimakasih atas kuasamu.... aku lupa detik yang keberapa, seperti biasanya. Milea sudah senyum? Ku yakin dia tersenyum lebar.
HUJAN DAN PERTEMUAN TERENCANA
Oleh: Ikmi Nur Oktavianti
Betapa kami mengagumi hujan,
Pecinta di atas bumi,
Dengan senyum mengembang dari wajah peresih,
Kami sambut setiap tetes yang mengenai kulit ari
Seperti belaian lembut yang menyeka tiap peluh kehidupan yang terperi
Dan mengenai helai-helai rambut kami
Bak seorang bayi dilangir seorang inang yang penuh kasih
Dan tetesnya yang mengenai bumi, beriringan,
Seperti para biduan yang mendendangkan lagu-lagu, beranggap-anggapan
Ah, kami mulai paham
Seperti telah terjadi persekutuan hati, langit dan bumi
Seperti ada pertemuan terencana, atau juga janji keduanya.
Maka lagi malam ini kami menelusur jejak hidup, menelusur perjumpaan terencana malam ini
Dengan temaram lampu kota di kanan kiri
Angin mulai digagahkan, dingin mulai diselimutkan di selingkup atmosfer
Supaya beroleh rintikmu mengunjungi bumi
Padahal baru kemarin kalian berbagi sapa, lewat pesan rahasia
Dan hujan yang tiada kunjung reda
Ketika kecup tulusmu menyentuhnya,
Bumi berkata: “lekas engkau datang!”
Meski masygul rasa hati
Karena petrichor yang tersesap masuk ke lubang hidung
Menyeruak dari pori-pori tanah bagaikan bunga selasih kayalnya
Memabukkan
Suatu perasaan yang tidak mungkin dinafikkan
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Turut bersuka atas cinta yang tersampaikan, atas rindu yang tersalurkan, meresap hingga ke dalam
Hingga nyaris tengah malam,
“Telanjuran”, kata bumi
Memang benar adanya
Percumbuan yang berlangsung begitu lama, mesra
Malam pun merasa tersakiti, dikhianati oleh bumi yang tiada mau peduli
Memohon bulan berhadir, pula bintang lekas melepaskan diri
Hingga terdengar oleh keduanya,
Pertanda percakapan hati harus diakhiri
“Esok aku akan kembali” kecup lembut hujan pada bumi, membawa pesan terakhir langit hari ini
Perlahan… kecup cinta dilepaskannya dari bumi, ditariknya
Meski berat, tetap ditariknya.. sembari mengempaskan segala rasa..
Dan hujan pun undur diri, menyibak kumpulan awan,
Bulan bintang terlepas dari himpitan, bercahaya menawan.
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Menjadi bagian dari percintaan, tengah malam ini,
Tak peduli dingin yang menggerayangi persendian
Karena hujan mampu menerjemahkan perasaan,
Dari langit untuk bumi yang belum tersampaikan
Karena setiap tetesnya sarat makna perjumpaan teramat sayang untuk ditumangkan,
terlebih diabaikan
Tiap tetesan yang membawa pesan cinta tersembunyi
Yang hanya mampu dipahami bumi.
Betapa kami mengagumi hujan,
Pecinta di atas bumi,
Dengan senyum mengembang dari wajah peresih,
Kami sambut setiap tetes yang mengenai kulit ari
Seperti belaian lembut yang menyeka tiap peluh kehidupan yang terperi
Dan mengenai helai-helai rambut kami
Bak seorang bayi dilangir seorang inang yang penuh kasih
Dan tetesnya yang mengenai bumi, beriringan,
Seperti para biduan yang mendendangkan lagu-lagu, beranggap-anggapan
Ah, kami mulai paham
Seperti telah terjadi persekutuan hati, langit dan bumi
Seperti ada pertemuan terencana, atau juga janji keduanya.
Maka lagi malam ini kami menelusur jejak hidup, menelusur perjumpaan terencana malam ini
Dengan temaram lampu kota di kanan kiri
Angin mulai digagahkan, dingin mulai diselimutkan di selingkup atmosfer
Supaya beroleh rintikmu mengunjungi bumi
Padahal baru kemarin kalian berbagi sapa, lewat pesan rahasia
Dan hujan yang tiada kunjung reda
Ketika kecup tulusmu menyentuhnya,
Bumi berkata: “lekas engkau datang!”
Meski masygul rasa hati
Karena petrichor yang tersesap masuk ke lubang hidung
Menyeruak dari pori-pori tanah bagaikan bunga selasih kayalnya
Memabukkan
Suatu perasaan yang tidak mungkin dinafikkan
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Turut bersuka atas cinta yang tersampaikan, atas rindu yang tersalurkan, meresap hingga ke dalam
Hingga nyaris tengah malam,
“Telanjuran”, kata bumi
Memang benar adanya
Percumbuan yang berlangsung begitu lama, mesra
Malam pun merasa tersakiti, dikhianati oleh bumi yang tiada mau peduli
Memohon bulan berhadir, pula bintang lekas melepaskan diri
Hingga terdengar oleh keduanya,
Pertanda percakapan hati harus diakhiri
“Esok aku akan kembali” kecup lembut hujan pada bumi, membawa pesan terakhir langit hari ini
Perlahan… kecup cinta dilepaskannya dari bumi, ditariknya
Meski berat, tetap ditariknya.. sembari mengempaskan segala rasa..
Dan hujan pun undur diri, menyibak kumpulan awan,
Bulan bintang terlepas dari himpitan, bercahaya menawan.
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Menjadi bagian dari percintaan, tengah malam ini,
Tak peduli dingin yang menggerayangi persendian
Karena hujan mampu menerjemahkan perasaan,
Dari langit untuk bumi yang belum tersampaikan
Karena setiap tetesnya sarat makna perjumpaan teramat sayang untuk ditumangkan,
terlebih diabaikan
Tiap tetesan yang membawa pesan cinta tersembunyi
Yang hanya mampu dipahami bumi.
DIUSIR CANTIK
Sungguh hujan dan angin menjadi satu,
Petir dan kilat menjadi pelengkap rindu,
Malam nanti ia berjanji tuk kembali,
Sekedar meneguk haus dari luar jangkauan imajinasi,
Rindu ini milik siapa?
Meski ada tanda tanya, namun tak butuh satu jawaban,
Ohhhhh maaak, temaram hancur ditikam angin malam.
Berjalan menelusuri jejak yang rapuh,
Ditengah hujan dan dingin, kilat dan petir
Berhenti didalam lorong gelap,
Hanya untuk sekedar bersujud dan mengadu,
Berteriak, aku rindu,
Kedinginan, menggigil, kebingungan,
Ooohhhhh ternyata.......
Aku telah diusir cantik oleh kota Jogja,
Meskipun kemaren kita baru jumpa,
Kemaren kita menatap senja,
Melawan sang waktu,
Bermanja dengan sang rindu,
Milea,.....
Lupakah kamu dengan amarah sang malam,
Ketika kita diperangi kedinginan,
Waktu...
Maafkan kami telah membunuhmu,
Malam...
Jangan marah hanya karena kami terlambat pulang,
Rindu...
Bangunkan semangat baru untuknya dan untukku,
Ohhhhh... aku kan akan menjadi sang perindu,
Antara Kau, ibu dan dia.
Buat ibu,
Anakmu kini bukan hanya anakmu,
Sudilah kiranya anakmu berbagi rindu,
Pada wanita anggun sepertimu,
Pada sebuah senja di bukit itu,
Senja kota, bawa dia kepelukanku
Nanti.
Diusir cantik,
Jogja, 02 Oktober 2014
Petir dan kilat menjadi pelengkap rindu,
Malam nanti ia berjanji tuk kembali,
Sekedar meneguk haus dari luar jangkauan imajinasi,
Rindu ini milik siapa?
Meski ada tanda tanya, namun tak butuh satu jawaban,
Ohhhhh maaak, temaram hancur ditikam angin malam.
Berjalan menelusuri jejak yang rapuh,
Ditengah hujan dan dingin, kilat dan petir
Berhenti didalam lorong gelap,
Hanya untuk sekedar bersujud dan mengadu,
Berteriak, aku rindu,
Kedinginan, menggigil, kebingungan,
Ooohhhhh ternyata.......
Aku telah diusir cantik oleh kota Jogja,
Meskipun kemaren kita baru jumpa,
Kemaren kita menatap senja,
Melawan sang waktu,
Bermanja dengan sang rindu,
Milea,.....
Lupakah kamu dengan amarah sang malam,
Ketika kita diperangi kedinginan,
Waktu...
Maafkan kami telah membunuhmu,
Malam...
Jangan marah hanya karena kami terlambat pulang,
Rindu...
Bangunkan semangat baru untuknya dan untukku,
Ohhhhh... aku kan akan menjadi sang perindu,
Antara Kau, ibu dan dia.
Buat ibu,
Anakmu kini bukan hanya anakmu,
Sudilah kiranya anakmu berbagi rindu,
Pada wanita anggun sepertimu,
Pada sebuah senja di bukit itu,
Senja kota, bawa dia kepelukanku
Nanti.
Diusir cantik,
Jogja, 02 Oktober 2014
ANAK GUNUNG RITANG
***Gedung Sekolah***
Matahari pagi mengintip mesra menyambut makhluk titipan Tuhan yang ada
dibumi, Seorang anak desa terpencil merupakan salah satu dari jutaan makhluk
tersebut. Beranjak menuju Gedung Reok adalah rutinitasnya ketika matahari
menyapa. Oh iya sobat, namanya
Yudhi. Ia merupakan
seorang anak yang dilahirkan di salah satu dusun yang amat terpencil
dari
sektor apapun yakni Dusun Padang Keladi ---bukan berarti tanah
yang hanya di tumbuhi tanaman “keladi” yang berarti Talas dalam bahasa
setempat--- namun demikian bukan berarti ia tertinggal sepenuhnya.
Didikan organisasi
sederhana itu membuatnya mengantongi sedikit keberungtungan dibandingan
teman-teman
sebaya yang ada di desanya. Kini dia merupakan satu-satunya utusan
perwakilan
pemuda desa yang berdiri hormat di kota budaya ini. Di keluarga inilah
tempat
yang ramai baginya saat itu meskipun sejatinya hanya terdiri Ayah, ibu,
dia dan
juga kedua adiknya. Namun kini semua suasana yang dulu ia temukan dalam keluarga itu telah berubah
dari semula rumah yang ramai kini berganti kostan yang ramah.
Pada tahun 1992, ia dilahirkan, tepatnya tanggal 22 november 1992.
Seperti di atas, dia dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Detik berganti
menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu
berganti bulan, bulan berganti tahun hingga tidak terasa manusia kecil itu kini
telah tumbuh menjadi anak-anak. Memasuki usia sekolah, tahun 1998 dia di
daftarkan untuk menjelajah gedung kecil yang di bernama sekolah, ketika itu di
Padang keladi hanya merupakan sekolah filial yang masih menginduk pada desa Pongok. Pagi tiba,
di hari pertama sekolah ia di dandan seolah anak perempuan yang ingin lomba
menari. Ketika itu teman kelas nya pertama
terdiri dari 6 siswa, disana mulai terlihat gaya mereka seperti anak STM karena
tidak ditemukan wajah anggun diantara wajah sangar mereka yang sehari-hari
memegang peletik[1].
Awan cerah dipagi hari mengiringi embun dingin nan sejuk. Berjalan
dijalanan yang becek merupakan surga bagi beberapa anak di desa tesebut. Pun
pagi ini sama dengan hari kemaren, meskipun matahari mengintip mesra namun sisa
hujan semalam masih tergenang layaknya tumpahan air yang tak diterima bumi
secara keseluruhan. Beberapa hari sekolah, tidak selayaknya siswa yang ada di
kota yang merupakan lulusan TK, sehingga butuh perkenalan, kami disini terdiri
dari 6 anak dalam satu kelas yang sejak dari lahir telah mengenal satu sama
lain. Pada suatu pagi, layaknya sekolah yang lain, kegiatan pertama selain
memperkenalkan diri mereka juga diminta
maju satu-persatu untuk mendendangkan sebuah lagu yang mereka hafal. Ketika 5
orang anak telah selesai, maka tibalah satu nama yang terakhir yakni Alex
Candra, pada saat berada di depan kelas, ia sungguh berbeda dengan Yudhi dan
temannya yang lain, ia bukan menunjukkan suara merdunya, namun ia menunjukkan
wajahnya yang memerah hingga mengeluarkan butiran air mata. Sungguh tak
disangka, seorang anak yang telah akrab dengan alam liar itu menangis hanya
karana disuruh menyanyi di depan kelas.
“Alex, sekarang gilran kamu yang
terakhir, silahkan maju kedepan” pinta pak guru yang akrab dipanggil pak
Jun, nama lengkapnya yaitu Junaedi, yang tak lain adalah tetangga terdekat Alex
Chandra.
Alex Candra maju kedepan papan tulis dengan ekspresi yang tak bisa
dibaca, tanpa sepatah katapun yang
keluar dari bibirnya. Hingga 5 menit kemudianpun ia tetap membisu secara suara
dan ekspresi. Keadaan tersebut membuat kelima temannya bingung sekaligus
tertawa.
“Can, la kuang beehh nyanyi, lete
neh kamek nunggu e”, ucap Sunyoto.
“Die agik mace du’e itu toooh”
sambut seorang teman yang bernama Mario.
Tiba-tiba suasana hening melihat air suci membasahi pipi putih nan mulus
Alex, ohhhh ternyata ia menangis dikarenakan kekurangan asupan percaya diri.
“Pukok e kau harus nyanyi Can,
kamek semue lah uda nyanyi e, terserah lagu ape nak e, yang penting kau harus
nyanyi” sambung seorang teman bernama Ranu sambil terbata.
“Iye Pak, lagu Cong Mak Ilong[2]
kuang ke Pak?” Tanya Alex kepada Pak Jun.
Kini suasana berubah, Pak Junaedi
yang akrab dipanggil pak Jun justeru yang bingung atas permintaan Alex Candra,
karena hingga sekarang lagu Cong Mak Ilong tak terdaftar sebagai lagu Daerah
apalagi lagu Nasional. Tanpa menunggu jawaban dari Pak Jun, Alex Candra
langsung mendendangkan lagu tersebut dengan suara merdunya bak botol siisi
pasir atau bebatuan kecil.
Cong mak ilong
Mak Ilong gaga batu
Dimana kucing belang
Disitu rumah hantu
Suasana sepi bagai rumah tak berpenghuni yang dipenuhi suara Jangkrik.
Namun tiba-tiba, tanpa basa basi Alex Candra menyunggingkan senyuman yang
merubah mendung dan hujan menjadi cerah layaknya kulitnya yang putih seperti
keturunan China. Serentak kelima temannya bertepuk tangan atas keberhasilannya
melewati tantangan terberat yang pernah ada dalam hidupnya.
***Air Sinsa***
Tidak lengkap rasanya jika seorang siswa kelas 1 SD berangkat kesekolah
tanpa adanya bekal. Begitu juga dengan sekelompok siswa kelas 1 yang
terdiri
dari setengah lusin tersebut. Layaknya sekolah ditengah kota, merekapun
membutuhkan bekal baik makanan dan minuman. Namun demikian makanan
bukanlah hal
yang wajib bagi mereka, karena itu bisa mereka dapatkan di lingkungan
yang tak
asing bagi mereka yakni hutan. Hutan dianggap sebagai restauran yang
menyediakan banyak menu makanan bahkan jauh lebih lengkap dari restauran
sekalipun.
Bakat menjadi sekelompok pengusaha yang kreatifpun mereka tekuni dengan
menciptakan minuman warna baru. Jika hari-hari mereka hanya minum
minuman yang
berwarna bening, maka pagi ini mereka telah menciptakan inovasi baru
dalam
kemasan yang lusuh dan berantakan. Layaknya kemasan minuman masa kini
yang
memiliki gas dan berwarna. Kini mereka tertarik untuk mencoba melakukan
penemuan dengan membuat minuman dari pewarna. Adapun pewarna yang mereka
gunakan berbahan dasar sinsa, namun demikian mereka menambahkan sedikit
gula
untuk menambah rasa manis dalam minuman meraka. Kekompakan dan
kemandirian
telah mereka dapatkan sejak lama. Ditengah abad yang serba ada begini
sebetulnya mereka tidak heran jika bertemu dengan minuman sejenis dengan
kemasan yang lebih rapi.
***Balik Untuk Tangkun***
Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit
Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi
jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong
mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak
manusia berstatus layaknya Little Krisna.
6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama
ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang
kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta
tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak
berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena
kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena
kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga.
Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan
hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun
(diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum
terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan
penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai
kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini
berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah?
iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan
penggoda iman (Punai).
Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja
setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang
tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-)
Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna. 6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai). Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-) Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna. 6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai). Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-) Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
***Perpisahan***
bertahun lamanya ia berjuang jauh dari keluarga, terbayang jelas sosok
perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga sekaligus petani, seorang
laki-laki setengah tua namun masih gagah yang berprofesi sebagai seorang petani
sekaligus nelayan dan dua anak kecil perempuan yang pintar dan jelita. Itulah
keluarga nya yang ia tinggalkan kini. Tetapi dimatanya mereka bukan petani
apalagi nelayan, mereka semua adalah pahlawan karena profesi itu telah menghantarkannya berdiri tegak didepan Perguruan Tinggi serta
tertunduk hormat diatas kota ini.
Setahun yang lalu, terlukis jelas wajah lugu seorang ibu dengan kesederhanaannya
yang menghantarkannya menuju bandara dan tidak lupa dua orang anak kecil
perempuan yang tak lain adalah adik kandung nya. Saat itu salah satu pahlawan
nya tidak ikut serta dalam momen disiang itu. Dengan wajah gembira yang
menutupi kesediah perpisahan mereka tunjukkan itu tak lain merupakan karena itu
hari pertama mereka melihat pesawat terbang secara langsung. Bahkan sejatinya
salah satu adiknya merupakan hari sekolah seperti biasa, namun ia memilih untuk
memupuk air matanya dilantai bandara saat melihatnya terbang ke kota. Ribuan nasihat
yang mereka berikan padanya, namun satu pertanyaan yang muncul dari mulut siswa
kelas 4 SD yang tak lain adalah adiknya sendiri...
“bang ngape disetiap bahasa ade
kosa kata menangis...?”
Terdiam sejenak ia untuk berfikir... namum belum sempat terjawab iapun
berkata lagi..
“karne disanak juak ade kate
tertawa”
Ia tertawa seakan melecehkan kata-katanya itu.. lalu ia bertanya..
“maksudnye ape itu Ka..?” Oh
iya nama adik nya itu Antika, jadi panggilan pedek ia padanya “ka”. Sedangkan
adiknya yang satunya berumur 2 tahun dan namanya Agustri.
“menangis toh lambang sedih, susah payah, sedangkan tertawa itu lambang
bahagia, jadi abang jangan takut susah payah karene kelak pasti ade bahagie” kata-katanya begitu bijak bukan,,..?
Sejenak ia terdiam dalam lamunan,
sisa detik-detik perpisahanpun mereka habiskan dengan bercanda sesekali
merenung karena ingin segera berpisah. Detik berganti menit, hingga tanpa terasa pesawat akan segera “take
off” namu sebelum masuk tangis perpisahan menghiasi perjalanannya, tak lain
adalah siswa yang begitu bijak namun kini menangis tersedu-sedu. Hingga ia
sadar ternyata adiknya begitu sayang padanya meskipun hari-hari mereka tak
lepas dari perselisihan. Namun itu tak mengurangi rasa sayang nya pada adiknya
itu.
Sobat... ketahuilah saat itu
merupakan pertama kalinya ia berada dalam pesawat. Hingga berlahan waktu
berganti, kabut yang menutupi pulau belitung kini berganti kepulau jawa. Dengan
tekat yang kuat tibalah ia di jakarta bersama tetangganya yang sama-sama menuju
ke Jogja.
***SOETTA***
Sedang asyik menikmati
pemandangan hidup di sekitar bandara Soekarno Hatta, tiba-tiba HP butut nya berdering
setelah beberapa saat ia matikan. Dengan sedikit rasa kaget bercampur rasa malu
karena bunyinya sungguh jauh berbeda dengan HP orang-orang zaman sekarang
hehehehehe... tak lain adalah panggilan dari
ibunya.........
“assalamua’laikum” panggilan ia jawab dengan sedikit canggung di
antara ratusan orang yang memiliki wajah modern masa kini.....
“waalaikumsalam” iapun
mejawab.
“Agik dmane...?” ibunya
bertanya lagi.
“di bandara mak..... kini baru nelpon
y....” singkatnya ingin metutup
telpon ibu dari ibunya.
“oh iye lah mun gitu seh, kini
nelpon e mun lah sampai jogja ye, assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam”
Jujur saja waktu itu kepalanya masih terasa
pusing karena ayunan ombak yang ia rasa saat di pesawat. Tak kuasa ia menahan
lapar setelah beberapa saat menunggu pesawat menuju kota tujuannya yaitu
Jogjakarta. Akhirnya ia memilih untuk membuka bekal yang di sediakan oleh
ibunya yang sejak subuh dipersiapkan khusus untuk seorang putra yang kini
terbang meniti jembatan masa depan yang sulit diperkirakan. Oh iya sobat perlu
diketahui bahwa ia terbang hanya ditemani 1 tas tang bertuliskan ”BANGKA
BELITUNG’’ yang tak lain adalah pemberian seorang ATLET nasional yang tak asing
lagi baginya. Namun tas tersebut berada didalam bagasi pesawat sedari tadi.
Namun kini yang ada dihadapannya yang ia gunakan untuk membawa bekal adalah tas
yang sudah ia gunakan sejak kelas 1 SMK yang mana sudah memiliki bekas operasi
dimana-mana. Namun itu bukan masalah yang berarti baginya ketika ingat tas yang
digunakan ayahnya untuk membawa bekal ke lahan sumber pencarian, itu jauh lebih
tua yang jika diperkirakan seperti manusia ia telah dalam kondisi kritis.
Tetapi tiba-tiba tas itu pula yang membuatnya tersentak sedikit malu saat
membuka resleting tas yang tidak bisa di kompromi sehingga membuat perutnya
bersabar sejenak. Kini keberadaannya serasa dipenuhi oleh mata-mata orang yang
pada dasarnya belum tentu melihat dirinya.
[1] Peletik biasa dikenal dengan nama ketapel
yang merupakan senjata tradisional setempat yang memiliki fungsi seperti
senapan. Peletik terbuat dari kayu bercabang yang ditambah dengan beberapa
karet sebagai energi pegas serta belulang yang digunakan untuk meletakkan
peluru yang biasa terbuat dari batu.
[2] Cong mak
ilong merupakan lagu yang hingga kini belum terdaftar sebagai lagu daerah
setempat apalagi lagu nasional.
[3] Tangkun
merupakan pohon yang di desain dengan kayu sebagai alat bantu untuk memanjat.
Tangkun dibuat senyaman mungkin layaknya rumah tarzan. Tangkun digunakan untuk
mencari punai dengan proses yang dinamakan MULUT.
[4] Pulut
merupakan alat yang digunakan untuk menjebak burung. Pulut terbuat dari getah
karet namun terkadang juga dibuat dari karet bekas yang dibuat layaknya lem.
MUDIK (ORA)
Yeeeyy 21 januari yang lalu liburan
kampus. Waktunya berlibur dan pulang kampung, setelah 2,5 tahun tidak
menginjakkan kaki disana. Senang dan semangat menjadi kaki kanan dan
kiri. Dor..... aaaaaakkkk...... ternyata aku bukan lagi mahasiswa. Lalu
ini masihkah namanya liburan? hehe jelas iya, karena saat ini saya masih
tidak berbeda dengan mahasiswa.
Tinggalkan saja dimana dan apa kerjaanku saat ini. Pulang kampung,
adalah tradisi yang dipegang erat bagi mereka yang hidup merantau.
Belitung merupakan pulau dimana hati ini dilatih untuk menjadi perantau
sejati. Sejak SMA aku sudah tidak lagi seatap dengan dia yang melahirkan
ku. Ibu, sang malaikat tak bersayap yang nyata bukan layaknya peri
dalam dunia hayalan. Bapak, superman yang tanpa topeng, ia hanya
memiliki pacul tuk membangun sebuah atau dua buah ladang. Kuat bagiakan
Little Krisna. :-) ku yakin mereka telah menerima penghargaan dari alam
dimana mereka berkarya.
Sejak pertama kuliah, bapak dan ibu hanya membekaliku dengan sedikit
modal nekad. Bagaimana tidak, ketika dunia kerja sudah diambang mata,
kelulusan SMA sudah menjadi nyata. Tak disangka dan tak diduga tawaran
untuk menyambut bangku kuliah kini telah menjadi fakta. Sejak itu tak
ada kata dari bibir, hanya getar dalam hati, dengan sebuah kalimat tanya
"mimpikah ini?". Wajah letih bapak yang saat itu diselimuti semangat
untuk melihat anaknya memakai toga kini tepat didepan mata.
"mau kuliah dimana?" wajah itu bertanya layaknya tanpa beban.
"sebentar pak, saya tanya-tanya dulu" semangat yang bapak tularkan kini ada padaku.
"mau kuliah dimana?" wajah itu bertanya layaknya tanpa beban.
"sebentar pak, saya tanya-tanya dulu" semangat yang bapak tularkan kini ada padaku.
Tak lama berselang, aku harus memilih tempat kuliah yang pas. Jogja
merupakan pilihan tepat karena saat itu dan "kini" Jogja masih dikenal
sebagai kota budaya dan kota pelajar.
Sejak awal kuliah tekad ini sungguh kuat. Tak ayal semangat ini sering
menjadi pegangan mereka yang membutuhkan. Dalam hati berniat "aku harus
lulus tepat pada waktunya dan tidak pulang sebelum wisuda". Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun hingga
tiba kini aku diujung lorong waktu dimana toga yang dulu bapak harapkan
siap dikenakan. Bahagianya tak kurang satupun sampai ku kabarkan 16
Agustus 2014 aku kan wisuda, setelah menjalani proses jatuh bangun
selama kurang lebih 4 tahun.
Kembali aku bertarung dengan sang waktu, berharap sebuah kajaiban
setelah terdengar sayup haru oleh angin pulau Pongok. Oh iya.. pongok
merupakan nama tempat dimana keluargaku menaruh hidup dan kehidupan.
Pelan pelan ku dengar keadaan keluarga yang yak memungkinkan untuk hadir
ditengah hari yang ku hitung tepat 4 tahun sejak duduk dibangku kuliah.
Senyum? sungguh tak lupa untuk hal satu itu. Mencari selimut untuk
sembunyikan sedih. Mencari hati tuk sembunyikan hati. Bagaimana tidak,
detik itu menderu semakin dekat hingga suatu pagi ku terbangun oleh riuh
gaduh tetangga kost yang siap siap ingin di wisuda. Ohhhhhhh ternyata
aku juga. :-). Dimana mereka? ku berlari menuju sebuah ruangan yang ku
ingat disitu ada keluargaku. Benar saja... ternyata keajaiban itu ada.
Disana ada keluarga yang hadir dan sedang bersiap hadir pada upacara
wisudaku. :-). "selamat datang" ku ucapkan seraya membuka tabir
kenyataan yang ku rias dalam mimpi semalam. Mereka keluarga memang,
namun bukan bapak atau ibuku. Tak apa, senyumlah selalu sebagaimana
pesan ibu.
Hitungan waktu kini semakin berada dalam dimensi terkecil. Bukan lagi bulan apalagi tahun. Kini hitungannya tinggal detik. Jujur saja sampai pada sedetik sebelum menaiki podium didepan rektor, aku masih berharap wajah itu hadir ketika membalikkan badan ditengah keramaian upacara.
Hitungan waktu kini semakin berada dalam dimensi terkecil. Bukan lagi bulan apalagi tahun. Kini hitungannya tinggal detik. Jujur saja sampai pada sedetik sebelum menaiki podium didepan rektor, aku masih berharap wajah itu hadir ketika membalikkan badan ditengah keramaian upacara.
Hmmmhhh sudahlah. aku mau mudik saja. Kembali menghitung mundur waktu.
Sejak diwisuda, tradisi mudik sudah hancur dalam diri ini. tak ada nama
pulang kampung (maunya). Sejak itu pula memutarkan otak tuk bertahan
dalam gemerlap kota Pelajar ku putuskan. Sampai pada 20 januari rasa
rindu ini mencapai puncaknya. Benar saja begitu banyak berbelit jalanku
untuk memutuskan pulang. Rasa takut terjebak nyaman dalam sebuah kampung
halaman menjadi penyebab. Bukan tak mau, hanya karena ku pahami area
dan "track record" disana.
"Bapak sakit"
Sejak itu tanpa berpikir ulang, ku berlari menuju agen sebuah maskapai.
Tepat besok pagi aku harus pulang kampung. Manambah rindu akan sebuah
raut wajah. Senandung rindu ini kian berkecamuk bercampur khawatir
terhadap malaikat tanpa sayap dan supermen tanpa topeng. :-)
"Pulanglah nak" sungguh itu membuat mata menangis.
_____Bu, anakmu pulang terlambat, tutup saja pintunya, namun jangan dikunci.
"Pulanglah nak" sungguh itu membuat mata menangis.
_____Bu, anakmu pulang terlambat, tutup saja pintunya, namun jangan dikunci.
SAJAK UNTUK WANITAKU
Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping
Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai
Jogja, 27 februari 2015
Yudhi Doank
Subscribe to:
Posts (Atom)

