klik

Pages

Wednesday, April 1, 2015

IBU BAPAK DAN RINDU

Angin... bawa semerbak rindu buat ibuku sayang
Bawa padanya sejuta kata maaf
Berat memang....
Bulan, katakan pada Ibuku aku baik baik saja
Tak usah dijawab jika ia bertanya
Anakku "sedang apa?"
Cukup berikan senyuman, bukan air mata.

Ibu... Punai nakal yang dulu ibu rawat...
Kini tumbuh dan belajar terbang labuh..

Terimakasih telah, masih dan akan menjadi malaikatku
Tak usah risau, Bu.

Ombak.... salam senyum buat Bapak dan jala-nya
Bawa padanya seribu kata terimakasih
Berat memang....
Bintang, letakkan penghargaan di badannya..
Paksa jika ia tidak mau.
Karena dunia selalu ingat keringatnya

Ibu, Bapak.... malam ini anakmu pulang terlambat.
Tutup saja pintunya, tapi tak usah di kunci :-)

MILEA DITELAN SENJA

milea menghilang. Sejenak ku perhatikan jarum jam, terhenti pada satu detik dimana ternyata rindu ini tak bertuan lagi. Ternyata aku kini sudah tak dalam detik yang sama. Detik satu tak sama dengan detik dua, menit berganti jam, jam berganti hari kini tak ada Milea disisiku. Bukan dimana? yang ku tanyakan, namun mengapa? Entah mungkin rasa telah berbeda, mau yang tak sama dan mungkin juga arah tak sejalan, tapi yang pasti Milea kini telah menghilang. 
Milea dimana? kulihat indah foto nan ayu menempel didinding sebuah ruang berukuran 3x3m yang sejak dulu hingga sekarang akrab disebut Kamar Kost. Oh iya... perlu diketahui bahwa aku adalah seorang pensiunan mahasiswa hehe. Hingga kini kehidupanku masih dihiasi oleh misteri 3x3. Dengan dinding dan ornamen sederhana, berdebu serta tak terawat, ada sebuah sebuah foto yang menempel dengan rapi. Kubersihkan setiap hari dikala mentari menyinari hingga rembulan bernyanyi memintaku untuk terlelap. Milea, itulah fotomu, dan fotoku juga tentunya. Milea dimana? sudahkah Milea lupa musim tak berbulan yang kita lewati? ku harap ini hanyalah sebuah Sinetron Indonesia yang memiliki banyak liku dalam proses namun selalu memiliki Happy Ending. Menikmati hidup ini tentu perlu inspirasi, sekecil apapun itu inspirasi akan sangat berharga ketika sendiri, ketika tak dihargai, ketika tak di ingini dan ketika kehilangan tanpa disadari.
***Milea Pergi***
Pergi, dalam KBBI berarti meninggalkan. Meninggalkan merupakan kata kerja yang membutuhkan subjek. Tentunya objek yang ditinggalkanpun juga ada. Milea kini ternyata tak hanya menjadi objek yang dijalankan oleh Tuhan, namun juga menjadi subjek yang menjalankan rindu dalam derap diri ini. Aku tak mengerti apakah ini namanya kehilangan, yang ku tau tanpamu aku sepi.Bukan berarti setiap saat kita selalu berdampingan, memang tidak sama sekali.
Seperti biasanya, aku selalu lupa entah detik keberapa, menit keberapa dan bahkan jam keberapa. Yang ku ingat hanya detik dimana Milea senyum dimalam itu menggantikan bulan yang tertutup awan. Mungkin sedikit redup ketika itu, tak apa yang penting kau ada. Ketika malam sudah berkuasa, dingin menjadi raja, embun bersiap menyambut mesra dan diri mulai tak terjaga, Milea datang membawa sebongkah rindu. Sejenak kemudian dia menghilang tanpa meninggalkan tanda apalagi jejak. Detik itu ku sadar ternyata rindu yang ia bawa sudah tak bertuan lagi. Ahhh, bukan kah rindu itu dibawa oleh tuannya sendiri? Ternyata bukan, hanya saja dunia terlalu egois mengirimkan bidadari pembawa rindu, jika akhirnya bidadari itu digrogti sang waktu. Bukan salah Milea selaku bidadari, hanya sang waktu dan pemiliknya lebih berkuasa. Bingung memang mengartikan dunia melalui cerita ini, karena pada saat cerita ini ditulis dunia memang tak memiliki arti.
Dalam suatu pagi, seandainya --mendekati iya-- datang makhluk luar angkasa bernama rindu, maka kan ku gantung dan ku ternak dia dipelopak mata, meskipun tak nyata, setidaknya ia selalu terasa disetiap kedipan mata. Setiap satu, akan beranjak menjadi dua, begitu juga harapanku setiap rindu akan beranjak menjadi jumpa. Milea, jangan pergi dariku. Kalau mau pergi sekarang saja. Kutunggu diruang rindu, kunanti dalam hati, jangankan mulai pagi ini, malampun ku mampu. Meskipun dingin yang penting ku tak beku.Tapi jangan harap kau bisa pergi lagi. GUBRAAAAKKKK... ternyata aku lagi bermimpi. Pagi ini tepat di Lowanu tempat ku bekerja, ku cari Milea. Ternyata dia sudah benar-benar pergi.... Capailah kebahagiaanmu, jangan pikirkan aku. Aku akan baik baik saja. Selamat jalan Milea, jika ada waktu, mampir keruang rindu kita berdua, buatlah satu menjadi dua. Dari aku ataupun kamu menjadi KITA.
Gersang, panas, gerah.... tak ada kata untuk menggambarkan betapa tak bersahabatnya dunia ini. Suara palu berkelahi dengan paku menghiasi ruang kerja, karena sebelah ada perbaikan. Milea, tak banyak permintaanku, cukup memberi kabar lewat angin. Pernah ku berdialog dengan sejuta makhluk yang tak terlihat oleh mata, yaitu sayang, rindu, cinta, kepedulian, kecemasan, kasih sayang dll, entahlah.... padahal semua itu merupakan kata benda dan kata sifat. Tapi semua itu kini tak tampak apalagi dirasa.
Tuhan, terimakasih atas kuasamu.... aku lupa detik yang keberapa, seperti biasanya. Milea sudah senyum? Ku yakin dia tersenyum lebar.

HUJAN DAN PERTEMUAN TERENCANA

Oleh: Ikmi Nur Oktavianti

Betapa kami mengagumi hujan,
Pecinta di atas bumi,
Dengan senyum mengembang dari wajah peresih,
Kami sambut setiap tetes yang mengenai kulit ari
Seperti belaian lembut yang menyeka tiap peluh kehidupan yang terperi
Dan mengenai helai-helai rambut kami
Bak seorang bayi dilangir seorang inang yang penuh kasih
Dan tetesnya yang mengenai bumi, beriringan,
Seperti para biduan yang mendendangkan lagu-lagu, beranggap-anggapan
Ah, kami mulai paham
Seperti telah terjadi persekutuan hati, langit dan bumi
Seperti ada pertemuan terencana, atau juga janji keduanya.
Maka lagi malam ini kami menelusur jejak hidup, menelusur perjumpaan terencana malam ini
Dengan temaram lampu kota di kanan kiri
Angin mulai digagahkan, dingin mulai diselimutkan di selingkup atmosfer
Supaya beroleh rintikmu mengunjungi bumi
Padahal baru kemarin kalian berbagi sapa, lewat pesan rahasia
Dan hujan yang tiada kunjung reda
Ketika kecup tulusmu menyentuhnya,
Bumi berkata: “lekas engkau datang!”
Meski masygul rasa hati
Karena petrichor yang tersesap masuk ke lubang hidung
Menyeruak dari pori-pori tanah bagaikan bunga selasih kayalnya
Memabukkan
Suatu perasaan yang tidak mungkin dinafikkan
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Turut bersuka atas cinta yang tersampaikan, atas rindu yang tersalurkan, meresap hingga ke dalam
Hingga nyaris tengah malam,
“Telanjuran”, kata bumi
Memang benar adanya
Percumbuan yang berlangsung begitu lama, mesra
Malam pun merasa tersakiti, dikhianati oleh bumi yang tiada mau peduli
Memohon bulan berhadir, pula bintang lekas melepaskan diri
Hingga terdengar oleh keduanya,
Pertanda percakapan hati harus diakhiri
“Esok aku akan kembali” kecup lembut hujan pada bumi, membawa pesan terakhir langit hari ini
Perlahan… kecup cinta dilepaskannya dari bumi, ditariknya
Meski berat, tetap ditariknya.. sembari mengempaskan segala rasa..
Dan hujan pun undur diri, menyibak kumpulan awan,
Bulan bintang terlepas dari himpitan, bercahaya menawan.
Dan kami ini,
Para pecinta di atas bumi
Menjadi bagian dari percintaan, tengah malam ini,
Tak peduli dingin yang menggerayangi persendian
Karena hujan mampu menerjemahkan perasaan,
Dari langit untuk bumi yang belum tersampaikan
Karena setiap tetesnya sarat makna perjumpaan teramat sayang untuk ditumangkan,
terlebih diabaikan
Tiap tetesan yang membawa pesan cinta tersembunyi
Yang hanya mampu dipahami bumi.

DIUSIR CANTIK

Sungguh hujan dan angin menjadi satu,
Petir dan kilat menjadi pelengkap rindu,
Malam nanti ia berjanji tuk kembali,
Sekedar meneguk haus dari luar jangkauan imajinasi,
Rindu ini milik siapa?
Meski ada tanda tanya, namun tak butuh satu jawaban,
Ohhhhh maaak, temaram hancur ditikam angin malam.
Berjalan menelusuri jejak yang rapuh,
Ditengah hujan dan dingin, kilat dan petir
Berhenti didalam lorong gelap,
Hanya untuk sekedar bersujud dan mengadu,
Berteriak, aku rindu,
Kedinginan, menggigil, kebingungan,
Ooohhhhh ternyata.......
Aku telah diusir cantik oleh kota Jogja,
Meskipun kemaren kita baru jumpa,
Kemaren kita menatap senja,
Melawan sang waktu,
Bermanja dengan sang rindu,
Milea,.....
Lupakah kamu dengan amarah sang malam,
Ketika kita diperangi kedinginan,
Waktu...
Maafkan kami telah membunuhmu,
Malam...
Jangan marah hanya karena kami terlambat pulang,
Rindu...
Bangunkan semangat baru untuknya dan untukku,
Ohhhhh... aku kan akan menjadi sang perindu,
Antara Kau, ibu dan dia.
Buat ibu,
Anakmu kini bukan hanya anakmu,
Sudilah kiranya anakmu berbagi rindu,
Pada wanita anggun sepertimu,
Pada sebuah senja di bukit itu,
Senja kota, bawa dia kepelukanku
Nanti.

Diusir cantik,
Jogja, 02 Oktober 2014

ANAK GUNUNG RITANG

***Gedung Sekolah***

Matahari pagi mengintip mesra menyambut makhluk titipan Tuhan yang ada dibumi, Seorang anak desa terpencil merupakan salah satu dari jutaan makhluk tersebut. Beranjak menuju Gedung Reok adalah rutinitasnya ketika matahari menyapa.  Oh iya sobat,  namanya Yudhi. Ia merupakan seorang anak yang dilahirkan di salah satu dusun yang amat terpencil dari sektor apapun yakni Dusun Padang Keladi ---bukan berarti tanah yang hanya di tumbuhi tanaman “keladi” yang berarti Talas dalam bahasa setempat--- namun demikian bukan berarti ia tertinggal sepenuhnya. Didikan organisasi sederhana itu membuatnya mengantongi sedikit keberungtungan dibandingan teman-teman sebaya yang ada di desanya. Kini dia merupakan satu-satunya utusan perwakilan pemuda desa yang berdiri hormat di kota budaya ini. Di keluarga inilah tempat yang ramai baginya saat itu meskipun sejatinya hanya terdiri Ayah, ibu, dia dan juga kedua adiknya. Namun kini semua suasana yang dulu  ia temukan dalam keluarga itu telah berubah dari semula rumah yang ramai kini berganti kostan yang ramah.
Pada tahun 1992, ia dilahirkan, tepatnya tanggal 22 november 1992. Seperti di atas, dia dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun hingga tidak terasa manusia kecil itu kini telah tumbuh menjadi anak-anak. Memasuki usia sekolah, tahun 1998 dia di daftarkan untuk menjelajah gedung kecil yang di bernama sekolah, ketika itu di Padang keladi hanya merupakan sekolah filial yang  masih menginduk pada desa Pongok. Pagi tiba, di hari pertama sekolah ia di dandan seolah anak perempuan yang ingin lomba menari. Ketika itu  teman kelas nya pertama terdiri dari 6 siswa, disana mulai terlihat gaya mereka seperti anak STM karena tidak ditemukan wajah anggun diantara wajah sangar mereka yang sehari-hari memegang peletik[1].  
Awan cerah dipagi hari mengiringi embun dingin nan sejuk. Berjalan dijalanan yang becek merupakan surga bagi beberapa anak di desa tesebut. Pun pagi ini sama dengan hari kemaren, meskipun matahari mengintip mesra namun sisa hujan semalam masih tergenang layaknya tumpahan air yang tak diterima bumi secara keseluruhan. Beberapa hari sekolah, tidak selayaknya siswa yang ada di kota yang merupakan lulusan TK, sehingga butuh perkenalan, kami disini terdiri dari 6 anak dalam satu kelas yang sejak dari lahir telah mengenal satu sama lain. Pada suatu pagi, layaknya sekolah yang lain, kegiatan pertama selain memperkenalkan diri  mereka juga diminta maju satu-persatu untuk mendendangkan sebuah lagu yang mereka hafal. Ketika 5 orang anak telah selesai, maka tibalah satu nama yang terakhir yakni Alex Candra, pada saat berada di depan kelas, ia sungguh berbeda dengan Yudhi dan temannya yang lain, ia bukan menunjukkan suara merdunya, namun ia menunjukkan wajahnya yang memerah hingga mengeluarkan butiran air mata. Sungguh tak disangka, seorang anak yang telah akrab dengan alam liar itu menangis hanya karana disuruh menyanyi di depan kelas.
“Alex, sekarang gilran kamu yang terakhir, silahkan maju kedepan” pinta pak guru yang akrab dipanggil pak Jun, nama lengkapnya yaitu Junaedi, yang tak lain adalah tetangga terdekat Alex Chandra.
Alex Candra maju kedepan papan tulis dengan ekspresi yang tak bisa dibaca, tanpa sepatah katapun  yang keluar dari bibirnya. Hingga 5 menit kemudianpun ia tetap membisu secara suara dan ekspresi. Keadaan tersebut membuat kelima temannya bingung sekaligus tertawa.
“Can, la kuang beehh nyanyi, lete neh kamek nunggu e”, ucap Sunyoto.
“Die agik mace du’e itu toooh” sambut seorang teman yang bernama Mario.
Tiba-tiba suasana hening melihat air suci membasahi pipi putih nan mulus Alex, ohhhh ternyata ia menangis dikarenakan kekurangan asupan percaya diri.
“Pukok e kau harus nyanyi Can, kamek semue lah uda nyanyi e, terserah lagu ape nak e, yang penting kau harus nyanyi” sambung seorang teman bernama Ranu sambil terbata.
“Iye Pak, lagu Cong Mak Ilong[2] kuang ke Pak?” Tanya Alex kepada Pak Jun.
Kini suasana berubah, Pak Junaedi yang akrab dipanggil pak Jun justeru yang bingung atas permintaan Alex Candra, karena hingga sekarang lagu Cong Mak Ilong tak terdaftar sebagai lagu Daerah apalagi lagu Nasional. Tanpa menunggu jawaban dari Pak Jun, Alex Candra langsung mendendangkan lagu tersebut dengan suara merdunya bak botol siisi pasir atau bebatuan kecil.
Cong mak ilong
Mak Ilong gaga batu
Dimana kucing belang
Disitu rumah hantu
Suasana sepi bagai rumah tak berpenghuni yang dipenuhi suara Jangkrik. Namun tiba-tiba, tanpa basa basi Alex Candra menyunggingkan senyuman yang merubah mendung dan hujan menjadi cerah layaknya kulitnya yang putih seperti keturunan China. Serentak kelima temannya bertepuk tangan atas keberhasilannya melewati tantangan terberat yang pernah ada dalam hidupnya.

***Air Sinsa***

Tidak lengkap rasanya jika seorang siswa kelas 1 SD berangkat kesekolah tanpa adanya bekal. Begitu juga dengan sekelompok siswa kelas 1 yang terdiri dari setengah lusin tersebut. Layaknya sekolah ditengah kota, merekapun membutuhkan bekal baik makanan dan minuman. Namun demikian makanan bukanlah hal yang wajib bagi mereka, karena itu bisa mereka dapatkan di lingkungan yang tak asing bagi mereka yakni hutan. Hutan dianggap sebagai restauran yang menyediakan banyak menu makanan bahkan jauh lebih lengkap dari restauran sekalipun. Bakat menjadi sekelompok pengusaha yang kreatifpun mereka tekuni dengan menciptakan minuman warna baru. Jika hari-hari mereka hanya minum minuman yang berwarna bening, maka pagi ini mereka telah menciptakan inovasi baru dalam kemasan yang lusuh dan berantakan. Layaknya kemasan minuman masa kini yang memiliki gas dan berwarna. Kini mereka tertarik untuk mencoba melakukan penemuan dengan membuat minuman dari pewarna. Adapun pewarna yang mereka gunakan berbahan dasar sinsa, namun demikian mereka menambahkan sedikit gula untuk menambah rasa manis dalam minuman meraka. Kekompakan dan kemandirian telah mereka dapatkan sejak lama. Ditengah abad yang serba ada begini sebetulnya mereka tidak heran jika bertemu dengan minuman sejenis dengan kemasan yang lebih rapi.

***Balik Untuk Tangkun***



Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna.
6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai).
Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-)

Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna. 6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai). Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-) Make Money at : http://bit.ly/copy_win


Make Money at : http://bit.ly/copy_win

Suatu pagi, matahari mengintip mesra dibalik bukit Pilar. Kicauan pentis dan perling bersaut riang menghiasi dedaun hijau ditepi jalanan sepanjang Padang Penuduk. Siul ria serta obrolan semalam (nyolong mempelam) menjadi penanda bahwa burung-burung tak sendiri, ada enam anak manusia berstatus layaknya Little Krisna. 6 orang siswa SMP Negeri 1 Lepong (Kini menjadi SMPN 2 Pongok) yang selama ini dikenal kuat dalam menggenjot pedal sepeda onthel, layaknya Krisna yang kuat membela Prindapan. Kekuatan tanpa tanding, semangat tanpa ujung serta tekad tanpa sekat meskipun kadang tak mufakad. Namun tiba-tiba kini lemas tak berdaya bagaikan tidak makan seminggu. Lemas kali ini ternyata bukan karena kami tidak makan, namun karena satu godaan. Wanita? Sepertinya bukan, karena kami belum mengenal wanita terlalu dalam. Uang ataupun Harta? Bukan juga. Karena hari-hari kami berangkat kesekolah tanpa uangpun sepertinya merupakan hal yang biasa, sehingga menghasilkan hutang (rimba) diwarung Yuk Sun (diketahui setelah lulus sekolah). Tahta? Sepertinya apalagi ini, kami belum terinfeksi oleh pemberitaan terkini yang memanfaatkan tahta sebagai lahan penghasilan bahkan mencari bonus diatas rata-rata. Yaaahhhh Punai.... Punai kali ini berhasil membalikkan arah sepeda kami. Semula menuju sekolah, kini berbalik dengan rapi bagaikan barisan ketika upacara bendera. Menuju rumah? iya... namun setelah itu pergi ke hutan rimba untuk mencari Tangkun dan kawanan penggoda iman (Punai). Punai memang menjadi idola para anak muda dan remaja setempat. Bukan wanita, harta apalagi tahta, punai hanyalah nama burung yang tidak ditemukan dihutan bagian Jakarta apalagi Jogja. :-) Make Money at : http://bit.ly/copy_win


Make Money at : http://bit.ly/copy_win

***Perpisahan***

bertahun lamanya ia berjuang jauh dari keluarga, terbayang jelas sosok perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga sekaligus petani, seorang laki-laki setengah tua namun masih gagah yang berprofesi sebagai seorang petani sekaligus nelayan dan dua anak kecil perempuan yang pintar dan jelita. Itulah keluarga nya yang ia tinggalkan kini. Tetapi dimatanya mereka bukan petani apalagi nelayan, mereka semua adalah pahlawan karena profesi itu telah menghantarkannya   berdiri tegak didepan Perguruan Tinggi serta tertunduk hormat diatas kota ini.
Setahun yang lalu, terlukis jelas wajah lugu seorang ibu dengan kesederhanaannya yang menghantarkannya menuju bandara dan tidak lupa dua orang anak kecil perempuan yang tak lain adalah adik kandung nya. Saat itu salah satu pahlawan nya tidak ikut serta dalam momen disiang itu. Dengan wajah gembira yang menutupi kesediah perpisahan mereka tunjukkan itu tak lain merupakan karena itu hari pertama mereka melihat pesawat terbang secara langsung. Bahkan sejatinya salah satu adiknya merupakan hari sekolah seperti biasa, namun ia memilih untuk memupuk air matanya dilantai bandara saat melihatnya terbang ke kota. Ribuan nasihat yang mereka berikan padanya, namun satu pertanyaan yang muncul dari mulut siswa kelas 4 SD yang tak lain adalah adiknya sendiri...
“bang ngape disetiap bahasa ade kosa kata menangis...?”
Terdiam sejenak ia untuk berfikir... namum belum sempat terjawab iapun berkata lagi..
“karne disanak juak ade kate tertawa”
Ia tertawa seakan melecehkan kata-katanya itu.. lalu ia bertanya..
“maksudnye ape itu Ka..?” Oh iya nama adik nya itu Antika, jadi panggilan pedek ia padanya “ka”. Sedangkan adiknya yang satunya berumur 2 tahun dan namanya Agustri.
                “menangis toh lambang sedih, susah payah, sedangkan tertawa itu lambang bahagia, jadi abang jangan takut susah payah karene kelak pasti ade bahagie”  kata-katanya begitu bijak bukan,,..?
                Sejenak ia terdiam dalam lamunan, sisa detik-detik perpisahanpun mereka habiskan dengan bercanda sesekali merenung karena ingin segera berpisah. Detik berganti menit,  hingga tanpa terasa pesawat akan segera “take off” namu sebelum masuk tangis perpisahan menghiasi perjalanannya, tak lain adalah siswa yang begitu bijak namun kini menangis tersedu-sedu. Hingga ia sadar ternyata adiknya begitu sayang padanya meskipun hari-hari mereka tak lepas dari perselisihan. Namun itu tak mengurangi rasa sayang nya pada adiknya itu.
                Sobat... ketahuilah saat itu merupakan pertama kalinya ia berada dalam pesawat. Hingga berlahan waktu berganti, kabut yang menutupi pulau belitung kini berganti kepulau jawa. Dengan tekat yang kuat tibalah ia di jakarta bersama tetangganya yang sama-sama menuju ke Jogja.

***SOETTA***

                Sedang asyik menikmati pemandangan hidup di sekitar bandara Soekarno Hatta, tiba-tiba HP butut nya berdering setelah beberapa saat ia matikan. Dengan sedikit rasa kaget bercampur rasa malu karena bunyinya sungguh jauh berbeda dengan HP orang-orang zaman sekarang hehehehehe...  tak lain adalah panggilan dari ibunya.........
                “assalamua’laikum” panggilan ia jawab dengan sedikit canggung di antara ratusan orang yang memiliki wajah modern masa kini.....
                “waalaikumsalam”  iapun mejawab.
“Agik dmane...?” ibunya bertanya lagi.
“di bandara mak..... kini baru nelpon y....” singkatnya ingin  metutup telpon ibu dari ibunya.
“oh iye lah mun gitu seh, kini nelpon e mun lah sampai jogja ye, assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam”
 Jujur saja waktu itu kepalanya masih terasa pusing karena ayunan ombak yang ia rasa saat di pesawat. Tak kuasa ia menahan lapar setelah beberapa saat menunggu pesawat menuju kota tujuannya yaitu Jogjakarta. Akhirnya ia memilih untuk membuka bekal yang di sediakan oleh ibunya yang sejak subuh dipersiapkan khusus untuk seorang putra yang kini terbang meniti jembatan masa depan yang sulit diperkirakan. Oh iya sobat perlu diketahui bahwa ia terbang hanya ditemani 1 tas tang bertuliskan ”BANGKA BELITUNG’’ yang tak lain adalah pemberian seorang ATLET nasional yang tak asing lagi baginya. Namun tas tersebut berada didalam bagasi pesawat sedari tadi. Namun kini yang ada dihadapannya yang ia gunakan untuk membawa bekal adalah tas yang sudah ia gunakan sejak kelas 1 SMK yang mana sudah memiliki bekas operasi dimana-mana. Namun itu bukan masalah yang berarti baginya ketika ingat tas yang digunakan ayahnya untuk membawa bekal ke lahan sumber pencarian, itu jauh lebih tua yang jika diperkirakan seperti manusia ia telah dalam kondisi kritis. Tetapi tiba-tiba tas itu pula yang membuatnya tersentak sedikit malu saat membuka resleting tas yang tidak bisa di kompromi sehingga membuat perutnya bersabar sejenak. Kini keberadaannya serasa dipenuhi oleh mata-mata orang yang pada dasarnya belum tentu melihat dirinya.






[1] Peletik biasa dikenal dengan nama ketapel yang merupakan senjata tradisional setempat yang memiliki fungsi seperti senapan. Peletik terbuat dari kayu bercabang yang ditambah dengan beberapa karet sebagai energi pegas serta belulang yang digunakan untuk meletakkan peluru yang biasa terbuat dari batu.

[2] Cong mak ilong merupakan lagu yang hingga kini belum terdaftar sebagai lagu daerah setempat apalagi lagu nasional.

[3] Tangkun merupakan pohon yang di desain dengan kayu sebagai alat bantu untuk memanjat. Tangkun dibuat senyaman mungkin layaknya rumah tarzan. Tangkun digunakan untuk mencari punai dengan proses yang dinamakan MULUT.
[4] Pulut merupakan alat yang digunakan untuk menjebak burung. Pulut terbuat dari getah karet namun terkadang juga dibuat dari karet bekas yang dibuat layaknya lem.

MUDIK (ORA)

Yeeeyy 21 januari yang lalu liburan kampus. Waktunya berlibur dan pulang kampung, setelah 2,5 tahun tidak menginjakkan kaki disana. Senang dan semangat menjadi kaki kanan dan kiri. Dor..... aaaaaakkkk...... ternyata aku bukan lagi mahasiswa. Lalu ini masihkah namanya liburan? hehe jelas iya, karena saat ini saya masih tidak berbeda dengan mahasiswa. 
Tinggalkan saja dimana dan apa kerjaanku saat ini. Pulang kampung, adalah tradisi yang dipegang erat bagi mereka yang hidup merantau. Belitung merupakan pulau dimana hati ini dilatih untuk menjadi perantau sejati. Sejak SMA aku sudah tidak lagi seatap dengan dia yang melahirkan ku. Ibu, sang malaikat tak bersayap yang nyata bukan layaknya peri dalam dunia hayalan. Bapak, superman yang tanpa topeng, ia hanya memiliki pacul tuk membangun sebuah atau dua buah ladang. Kuat bagiakan Little Krisna. :-) ku yakin mereka telah menerima penghargaan dari alam dimana mereka berkarya.
Sejak pertama kuliah, bapak dan ibu hanya membekaliku dengan sedikit modal nekad. Bagaimana tidak, ketika dunia kerja sudah diambang mata, kelulusan SMA sudah menjadi nyata. Tak disangka dan tak diduga tawaran untuk menyambut bangku kuliah kini telah menjadi fakta. Sejak itu tak ada kata dari bibir, hanya getar dalam hati, dengan sebuah kalimat tanya "mimpikah ini?". Wajah letih bapak yang saat itu diselimuti semangat untuk melihat anaknya memakai toga kini tepat didepan mata.
"mau kuliah dimana?" wajah itu bertanya layaknya tanpa beban.
"sebentar pak, saya tanya-tanya dulu" semangat yang bapak tularkan kini ada padaku.
Tak lama berselang, aku harus memilih tempat kuliah yang pas. Jogja merupakan pilihan tepat karena saat itu dan "kini" Jogja masih dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar. 
Sejak awal kuliah tekad ini sungguh kuat. Tak ayal semangat ini sering menjadi pegangan mereka yang membutuhkan. Dalam hati berniat "aku harus lulus tepat pada waktunya dan tidak pulang sebelum wisuda". Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun hingga  tiba kini aku diujung lorong waktu dimana toga yang dulu bapak harapkan siap dikenakan. Bahagianya tak kurang satupun sampai ku kabarkan 16 Agustus 2014 aku kan wisuda, setelah menjalani proses jatuh bangun selama kurang lebih 4 tahun.
Kembali aku bertarung dengan sang waktu, berharap sebuah kajaiban setelah terdengar sayup haru oleh angin pulau Pongok. Oh iya.. pongok merupakan nama tempat dimana keluargaku menaruh hidup dan kehidupan. Pelan pelan ku dengar keadaan keluarga yang yak memungkinkan untuk hadir ditengah hari yang ku hitung tepat 4 tahun sejak duduk dibangku kuliah. Senyum? sungguh tak lupa untuk hal satu itu. Mencari selimut untuk sembunyikan sedih. Mencari hati tuk sembunyikan hati. Bagaimana tidak, detik itu menderu semakin dekat hingga suatu pagi ku terbangun oleh riuh gaduh tetangga kost yang siap siap ingin di wisuda. Ohhhhhhh ternyata aku juga. :-). Dimana mereka? ku berlari menuju sebuah ruangan yang ku ingat disitu ada keluargaku. Benar saja... ternyata keajaiban itu ada. Disana ada keluarga yang hadir dan sedang bersiap hadir pada upacara wisudaku. :-). "selamat datang" ku ucapkan seraya membuka tabir kenyataan yang ku rias dalam mimpi semalam. Mereka keluarga memang, namun bukan bapak atau ibuku. Tak apa, senyumlah selalu sebagaimana pesan ibu.
Hitungan waktu kini semakin berada dalam dimensi terkecil. Bukan lagi bulan apalagi tahun. Kini hitungannya tinggal detik. Jujur saja sampai pada sedetik sebelum menaiki podium didepan rektor, aku masih berharap wajah itu hadir ketika membalikkan badan ditengah keramaian upacara. 
Hmmmhhh sudahlah. aku mau mudik saja. Kembali menghitung mundur waktu. Sejak diwisuda, tradisi mudik sudah hancur dalam diri ini. tak ada nama pulang kampung (maunya). Sejak itu pula memutarkan otak tuk bertahan dalam gemerlap kota Pelajar ku putuskan. Sampai pada 20 januari rasa rindu ini mencapai puncaknya. Benar saja begitu banyak berbelit jalanku untuk memutuskan pulang. Rasa takut terjebak nyaman dalam sebuah kampung halaman menjadi penyebab. Bukan tak mau, hanya karena ku pahami area dan "track record" disana. 
"Bapak sakit" 
Sejak itu tanpa berpikir ulang, ku berlari menuju agen sebuah maskapai. Tepat besok pagi aku harus pulang kampung. Manambah rindu akan sebuah raut wajah. Senandung rindu ini kian berkecamuk bercampur khawatir terhadap malaikat tanpa sayap dan supermen tanpa topeng. :-)
"Pulanglah nak" sungguh itu membuat mata menangis.
_____Bu, anakmu pulang terlambat, tutup saja pintunya, namun jangan dikunci.

SAJAK UNTUK WANITAKU

Dari tulang rusuk lah kau diciptakan
bukan kepala
sebagai atasan
pun bukan kaki
untuk direndahkan
melainkan dari satu sisi
untuk dijadikan pendamping

Dekat dengan tangan
untuk dilindungi
Pula dekat dengan hati
untuk dicintai

Jogja, 27 februari 2015
Yudhi Doank
 

Blogger news